Jabatan:
Direktur Pusat Diagnosis dan Perawatan Presisi Onkologi Medis Foshan Chancheng
Gelar:
Kepala Dokter
· Metode Diagnosis Kanker Serviks
· Pemeriksaan ginekologi secara rutin sangat dianjurkan untuk deteksi dini kanker serviks. Pemeriksaan ini dapat dilakukan oleh dokter yang berpengalaman melalui observasi langsung, pemeriksaan sitologi (Pap smear), dan tes HPV. Jika muncul gejala seperti perdarahan setelah berhubungan intim atau keputihan berlebih tanpa sebab yang jelas, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan. Apabila hasil sitologi serviks menunjukkan kelainan dan tes HPV risiko tinggi memberikan hasil positif, maka perlu dipertimbangkan untuk menjalani pemeriksaan kolposkopi (colposcopy). Jika kanker serviks terkonfirmasi, pemeriksaan radiologis seperti USG, MRI, atau CT scan akan digunakan untuk menentukan stadium kanker dan menyusun rencana pengobatan yang sesuai.
Pasien dapat berkonsultasi ke poliklinik ginekologi di rumah sakit umum, rumah sakit ibu dan anak, poliklinik onkologi ginekologi di rumah sakit khusus kanker atau klinik khusus penyakit serviks.
Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan sitologi serviks (Pap smear), tes HPV, serta observasi lesi pada permukaan leher rahim menggunakan kolposkopi. Diagnosis akhir dikonfirmasi melalui pemeriksaan histopatologi dari jaringan serviks yang diambil, untuk menentukan jenis dan karakteristik kanker secara pasti.
Setelah diagnosis kanker serviks ditegakkan, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, terutama pada kelenjar getah bening superfisial di seluruh tubuh, terutama kelenjar getah bening supraklavikula (supraclavicular nodes) dan inguinal (inguinal nodes), karena pembesaran pada area ini dapat menjadi tanda metastasis kanker serviks. Pemeriksaan ginekologi juga dilakukan secara sistematis melalui pemeriksaan bimanual (menggunakan dua tangan) dan pemeriksaan tiga tangan (rectovaginal examination) untuk mengevaluasi sejauh mana kanker menyebar, ukuran tumor di area serviks, serta kondisi rahim (uterus) dan jaringan sekitarnya. Semua informasi ini penting dalam menentukan stadium penyakit.
Metode utama skrining kanker serviks meliputi beberapa teknik berikut.

· Pemeriksaan Sitologi Serviks dan Tes HPV
Dokter akan membuka vagina menggunakan alat spekulum, lalu mengambil sampel sel dari area serviks menggunakan alat berbentuk sikat kecil. Sampel ini dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan sitologi dan deteksi HPV. Tes ini dapat mendeteksi lesi prakanker maupun sel kanker serviks.
· Pemeriksaan Kolposkopi
Jika hasil sitologi menunjukkan kelainan atau dokter mencurigai adanya masalah, kolposkopi dapat dilakukan. Pemeriksaan ini menggunakan alat pembesar dan dapat merekam gambar untuk melihat lebih detail perubahan pada leher rahim. Sebelum pemeriksaan kolposkopi, disarankan untuk tidak berhubungan seksual selama 72 jam, serta menghindari membersihkan bagian dalam vagina atau penggunaan obat dalam vagina selama 48 jam, agar hasil pemeriksaan tidak terganggu.
· Biopsi Serviks
Pada area serviks yang dicurigai mengalami kelainan melalui kolposkopi, dokter akan mengambil sampel jaringan kecil untuk dianalisis di laboratorium patologi. Pemeriksaan ini bertujuan menegakkan diagnosis secara pasti melalui analisis histopatologi di bawah mikroskop, dan merupakan standar utama dalam memastikan adanya kanker serviks maupun lesi pra-kanker. Sebelum pemeriksaan, pasien disarankan untuk tidak berhubungan seksual selama 48 jam, serta menghindari pemeriksaan saat menstruasi atau jika sedang mengalami infeksi akut pada serviks.
· Pemeriksaan Radiologi
Jika diperlukan, pemeriksaan seperti USG transvaginal, CT scan, MRI, dan PET-CT dapat dilakukan. Pemeriksaan ini digunakan untuk menilai ukuran tumor, hubungan posisi dengan organ sekitarnya, serta sejauh mana penyebarannya. Hal ini penting untuk mengetahui apakah kanker sudah bermetastasis dan ke bagian tubuh mana saja.
· Pemeriksaan Penanda Tumor dalam Darah
Penanda tumor dalam darah yang sering digunakan untuk mendeteksi kanker serviks antara lain antigen sel skuamosa (SCC) dan fragmen sitokeratin 19 (CYFRA21-1). Selain itu, dapat dilakukan pemeriksaan tambahan seperti alfa-fetoprotein (AFP), carcinoembryonic antigen (CEA), serta antigen kanker CA19-9 dan CA125. Pemeriksaan ini berguna sebagai penunjang diagnosis dan untuk memantau perkembangan penyakit selama proses pengobatan.